Sesaat …

 

 

kaki indah berhias gelang permata
tangan halus dengan jari lentik mengemudikan Mercy
bibir indah dengan pemoles rasa strowbery
dan muda belia nan manja dengan otak “have a fun”-nya…

Mungkin itu yang ia dapatkan kini. Pikir Ana sesaat sebelum tidurnya.

Sejak dulu Ana sangat sadar bahwa kakinya tidak akan nampak indah meskipun memakai gelang kaki penuh permata menghiasi kakinya. Ana juga sepenuhnya sadar bahwa tangan halusnya tidaklah berjari lentik, tidak pula dapat mengemudikan Mercy. Tapi Ana benar-benar yakin bahwa bibirnya bisa dikatakan bibir indah dan dia masih mampu membeli pemoles bibir rasa strawbery. Tapi malam itu, Ana baru tersadar bahwa usianya tidaklah muda lagi, otaknya tidak lagi berfikir hanya ingin “have fun” dalam menjalin sebuah ikatan. Didalam otaknya kini yang ada adalah pernikahan, anak, serta karier yang ingin dijalaninya saat jadi ibu rumah tangga.

Mungkinkah isi otak ini yang membuat Andi menjauhku, bahkan tak mau berteman dan menghindar dari kehidupanku ?. Sebuah pertanyaan yang Ana lontarkan untuk dirinya sendiri… sebelum akhirnya ia tertidur membawa “tanya dalam hati” ….

Inikah dunia ?
Inikah sandiwara kehidupan ?
Berapa banyak lagikah yang akan terluka?
Berapa lama lagikah akan terluka?
Dan berapa lama lagi dirinya akan tersadar

bahwa “sandiwara tak akan pernah berakhir, saat engkau masih berkeinginan memainkannya”.